TANJUNGPINANG – Di tengah meningkatnya ancaman kerusakan ekosistem pesisir akibat perubahan iklim, abrasi, dan aktivitas manusia, kepedulian terhadap kelestarian lingkungan terus digelorakan. Bertepatan dengan momentum Hari Mangrove Sedunia 26 Juli dan menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) bersama Garuda Keadilan (GK) melakukan aksi nyata melalui kegiatan penanaman ratusan bibit mangrove di wilayah Tanjungpinang, Kepulauan Riau.
Kegiatan tersebut menjadi simbol komitmen menjaga lingkungan sekaligus mengajak masyarakat untuk memperkuat kepedulian terhadap ekosistem pesisir yang memiliki peran vital bagi keberlangsungan kehidupan.
Ketua DPD PKS Tanjungpinang, Raja Dachroni, melalui Sekretaris DPD PKS Tanjungpinang Bambang Priyatin, S.Sy, menyampaikan bahwa gerakan penanaman mangrove bukan hanya kegiatan seremonial, tetapi bagian dari upaya menjaga warisan alam bagi generasi mendatang.
“Menjaga lingkungan adalah bagian dari tanggung jawab kita bersama. Mangrove memiliki banyak manfaat, bukan hanya bagi alam, tetapi juga bagi masyarakat pesisir yang menggantungkan kehidupan dari ekosistem laut,” ujar Bambang.
Indonesia Rumah Mangrove Dunia, Namun Terus Menghadapi Ancaman
Indonesia memiliki posisi strategis dalam konservasi mangrove global. Berdasarkan Peta Mangrove Nasional Tahun 2025, Indonesia memiliki sekitar 3,45 juta hektare mangrove, yang mencakup sekitar 23 persen dari total mangrove dunia dan menjadi salah satu kawasan mangrove terbesar di planet ini.
Namun, kekayaan alam tersebut menghadapi berbagai tekanan. Laporan Food and Agriculture Organization (FAO) menyebutkan luas mangrove dunia pada tahun 2020 sekitar 14,8 juta hektare. Dalam periode 2000–2020, dunia kehilangan sekitar 677 ribu hektare mangrove, meskipun laju kehilangan mulai mengalami perlambatan dalam satu dekade terakhir.
Penyebab utama kerusakan mangrove berasal dari aktivitas manusia, seperti perubahan fungsi kawasan menjadi tambak, pembangunan wilayah pesisir, pemanfaatan kayu yang tidak terkendali, serta tekanan akibat perubahan iklim.
Mangrove, Benteng Alami Menghadapi Bencana Pesisir
Mangrove bukan sekadar tanaman yang tumbuh di kawasan berlumpur. Ekosistem ini merupakan benteng alami pesisir yang memiliki fungsi ekologis sangat besar.
1. Melindungi Pantai dari Abrasi dan Gelombang
Akar mangrove yang kuat mampu menahan sedimen, mengurangi energi gelombang, serta membantu menjaga garis pantai agar tidak mudah mengalami abrasi.
Ketika kawasan mangrove hilang, wilayah pesisir menjadi lebih rentan terhadap gelombang besar, banjir rob, dan dampak badai.
2. Penyimpan Karbon untuk Mengurangi Perubahan Iklim
Mangrove termasuk ekosistem blue carbon yang memiliki kemampuan tinggi dalam menyerap dan menyimpan karbon.
Karbon tersimpan bukan hanya pada batang dan daun, tetapi juga pada tanah di bawah ekosistem mangrove. Karena itu, menjaga mangrove berarti ikut berkontribusi dalam mengurangi emisi karbon dan dampak perubahan iklim.
3. Rumah bagi Keanekaragaman Hayati
Ekosistem mangrove menjadi tempat berkembang biak berbagai jenis ikan, udang, kepiting, moluska, serta berbagai jenis burung.
Bagi masyarakat pesisir, mangrove memiliki hubungan langsung dengan sumber pangan dan ekonomi karena menjadi kawasan penting bagi produktivitas perikanan.
4. Menopang Ekonomi Masyarakat Pesisir
Mangrove memberikan manfaat ekonomi melalui perikanan, wisata berbasis alam, hasil hutan bukan kayu, hingga peluang ekonomi hijau.
Kerusakan mangrove pada akhirnya bukan hanya masalah lingkungan, tetapi juga dapat berdampak terhadap kesejahteraan masyarakat pesisir.
Gerakan Kecil untuk Dampak Besar
Melalui kegiatan penanaman mangrove tersebut, PKS dan Garuda Keadilan mengajak masyarakat Tanjungpinang untuk memahami bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab bersama.
Penanaman ratusan bibit mangrove menjadi langkah kecil yang diharapkan dapat memberikan dampak besar dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir Kepulauan Riau.
Momentum Hari Mangrove Sedunia dan peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi pengingat bahwa kemerdekaan tidak hanya dimaknai sebagai bebas dari penjajahan, tetapi juga sebagai kemerdekaan generasi mendatang untuk menikmati lingkungan yang sehat dan lestari.
“Kemerdekaan sejati adalah ketika kita mampu mewariskan bumi yang lebih baik kepada anak cucu kita,” demikian pesan moral dari kegiatan tersebut.


Comment