BATAM, BATAMHEADLINE.COM – Transformasi sektor pertanian menjadi salah satu agenda penting pembangunan pangan di Kepulauan Riau. Pemerintah daerah menyiapkan konsep Kepri Modern Agriculture 2030 dengan mengandalkan teknologi, regenerasi petani hingga hilirisasi produk.
Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Kesehatan Hewan Provinsi Kepri, Dr. Rika Azmi, S.TP., MM., dalam Rapat Kerja Daerah (Rakerda) I DPD HKTI Kepri di Hotel Aston Batam, Senin (31/8/2026).
Rika menjelaskan, karakteristik Kepri sebagai wilayah kepulauan menjadi tantangan tersendiri dalam pembangunan pertanian. Sekitar 96 persen wilayah Kepri merupakan lautan, sedangkan daratan hanya 4 persen.
Kepri memiliki 2.028 pulau dan 292 di antaranya berpenghuni. Total lahan pertanian tercatat mencapai 221.708 hektare yang tersebar di Batam, Karimun, Natuna, Lingga, Tanjungpinang dan Anambas.
Dari sisi kelembagaan, terdapat 173 Gapoktan dan 2.250 Poktan di seluruh Kepri.
Meski menghadapi berbagai tantangan, indikator ketahanan pangan menunjukkan perkembangan positif. Indeks Ketahanan Pangan Kepri pada 2025/2026 mencapai 71,96 dan membuat posisi Kepri naik dari peringkat ke-34 nasional pada 2022 menjadi peringkat ke-16 dari 38 provinsi.
Nilai Tukar Petani juga berada pada kisaran 102,26 hingga 104,69 dan relatif stabil di atas target.
Namun, pemerintah masih menghadapi persoalan berupa keterbatasan pasokan pangan lokal, belum meratanya konsumsi pangan Beragam, Bergizi Seimbang dan Aman, rendahnya adopsi mekanisasi modern serta kebutuhan peningkatan kompetensi penyuluh.
Melalui konsep Modern Agriculture 2030, pemerintah menyiapkan tujuh pilar pembangunan. Pilar tersebut mencakup infrastruktur dan fasilitas, produksi berkelanjutan, sentra produksi pangan, teknologi dan digitalisasi, regenerasi petani, pembiayaan dan perlindungan, serta hilirisasi dan pemasaran.
Penerapannya mencakup pembangunan irigasi dan jalan usaha tani, mekanisasi, penggunaan benih unggul dan pupuk organik, pertanian cerdas iklim, teknologi IoT, drone serta dashboard petani digital.
Petani milenial juga akan didorong melalui pelatihan dan pendampingan. Sementara akses KUR, asuransi, e-commerce hingga pasar ekspor diperluas untuk mendukung keberlanjutan usaha.
Rakerda tersebut dibuka Ketua DPD HKTI Kepri, Dr. Nyanyang Haris Pratamura. Ia menegaskan HKTI harus ikut menjadi bagian dari transformasi tersebut dengan memperkuat organisasi dan hadir langsung bersama petani.
Kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, masyarakat, HKTI dan media dinilai menjadi kunci untuk mewujudkan pertanian Kepri yang modern, produktif dan berdaya saing.


Comment