
BATAMHEADLINE – Tanaman kopi telah mulai ada di Asia Tenggara sejak abad ke-17an. Budaya ngopi pun berkembang dari waktu ke waktu.
Beberapa waktu belakangan, kedai kopi pun kian menjamur di berbagai sudut kota, mulai dari warung kopi sederhana, kopitiam, hingga kafe yang menyediakan specialty coffee.
Karena pasar yang kian besar, penyajian pun berkembang, termasuk dengan menonjolkan kekhasan masing-masing daerah.
Misalnya di Vietnam, kopi robusta merupakan jenis yang paling banyak diproduksi dan paling banyak dikonsumsi oleh masyarakatnya.
Biji kopi robusta bercita rasa bold dan pahit sehingga amat pas dipadukan dengan susu kental manis. Dan gaya penyajian dengan susu ini pun menjadi minuman kopi khas Vietnam, yang disebut Ca Phe Sua, atau sering kita kenal dengan kopi susu Vietnam.
Selain menikmati dengan campuran susu kental manis, masyarakat Vietnam juga gemar mengonsumsi kopi hitam pahit yang diseduh dengan teknik drip, yaitu dengan menggunakan saringan khas Vietnam berbahan logam, phin ca phe.
Budaya minum kopi masyarakat Vietnam di masa kini pun semakin kaya variasi. Minuman kopi pun disajikan dengan campuran bahan-bahan lokal lain, seperti air kelapa, yoghurt, bahkan telur.
Masyarakat Thailand menikmati kopi dengan cara yang mirip dengan masyarakat Vietnam. Banyak dari mereka menggunakan teknik saring dalam menyajikan minuman kopi.
Oliang atau kopi Thailand diseduh dengan alat saring khusus yang disebut tungdtom dan diracik dengan tambahan susu cair atau susu kental manis dan gula merah.
Sementara masyarakat negara-negara Asia Tenggara lainnya, seperti Laos, Kamboja dan Myanmar, banyak yang gemar mengonsumsi kopi hitam.
Mereka menggunakan biji kopi yang disangrai (roasting) dengan menggunakan lemak nabati hingga biji kopi berwarna hitam sebelum kemudian digiling halus. Hasilnya, kopi hitam yang kaya rasa.
Di Singapura dan Malaysia, biji kopi juga disangrai dengan margarin atau lemak nabati. Tetapi terkadang ditambah gula. Biji kopi yang dihasilkan pun memiliki cita rasa manis seperti karamel.
Masyarakat Singapura dan Malaysia umumnya menikmati kopi di kedai kopi ala Hainan yang dikenal dengan kopitiam atau di rumah makan mamak, khas budaya Melayu-India.
Oleh karena itu, kegiatan minum kopi di kedua negeri jiran tersebut bukan hanya menggambarkan sebuah kebiasaan, tetapi juga menunjukkan adanya akulturasi budaya.
Budaya asing memang mewarnai budaya ngopi di kawasan Asia Tenggara. Namun, akulturasi ini justru menjadi nilai lebih.