
BATAMHEADLINE – Ketua Forum Pemuda Lintas Agama (FPLA) Kepulauan Riau, Rahmad Budi Harto, menyampaikan keprihatinan mendalam atas insiden perusakan rumah retret di Desa Tangkil, Kecamatan Cidahu, Sukabumi, yang terjadi pada Jumat (27/6/2025). Ia menilai tindakan tersebut mencoreng semangat toleransi dan kerukunan antarumat beragama yang telah lama dijaga di Indonesia.
Peristiwa yang bermula dari keberatan warga terhadap dugaan kegiatan ibadah di rumah milik Maria Veronica Ninna itu berujung pada tindakan pembubaran paksa dan perusakan bangunan. Rekaman video yang beredar di media sosial menunjukkan massa merusak mobil, kaca, pintu, dan perabotan rumah, hingga menciptakan suasana mencekam.
“Ini peristiwa yang sangat kami sayangkan. Tindakan kekerasan seperti ini tidak bisa dibenarkan dengan alasan apa pun, apalagi dilakukan atas nama keberatan terhadap aktivitas keagamaan,” ujar Rahmad Budi Harto dalam pernyataannya, Senin (1/7/2025).
Menurut Rahmad, jika memang terdapat dugaan kegiatan tanpa izin, seharusnya penyelesaiannya dilakukan melalui jalur hukum dan koordinasi administratif, bukan dengan main hakim sendiri. Ia menekankan bahwa negara menjamin kebebasan beragama dan beribadah sesuai dengan amanat konstitusi.
Ketua PW GP Ansor Kepri Periode 2019 – 2024 ini pun mendesak aparat kepolisian agar menindak tegas para pelaku perusakan demi menjaga keadilan dan mencegah terulangnya insiden serupa di daerah lain. “Kami percaya pada proses hukum. Namun harus ada tindakan nyata agar pelaku tidak merasa kebal hukum,” tegasnya.
Forum Pemuda Lintas Agama Kepri, lanjut Rahmad, telah lama berkomitmen menjaga harmoni dan keberagaman di tengah masyarakat yang majemuk. Ia khawatir, jika peristiwa semacam ini dibiarkan, akan muncul efek domino yang memicu ketegangan horizontal di berbagai wilayah.
“Keharmonisan itu dirawat, bukan dibiarkan rusak oleh provokasi dan intoleransi. Tugas kita bersama menjaga agar perbedaan tidak menjadi sumber perpecahan,” tambah Rahmad.
Rahmad juga mengajak seluruh tokoh masyarakat, pemuda lintas iman, dan aparat pemerintah untuk memperkuat edukasi toleransi di tingkat akar rumput. “Penting bagi kita membangun dialog, bukan curiga. Menebar empati, bukan kebencian,” pungkasnya.