BATAM – Tim Pengabdian Masyarakat BIMA 2026 yang merupakan kolaborasi antara Politeknik Negeri Batam, SMK Kartini, Batam On Global Group, serta komunitas Tanjung Uma Empowerment memulai langkah konkret dalam mengatasi persoalan lingkungan sekaligus meningkatkan kualitas pendidikan vokasi. Program bertajuk “Inovasi Sampah Plastik Pesisir sebagai Media Pembelajaran melalui Pendampingan Teknologi Cetak 3D di SMK Kartini” ini diawali dengan identifikasi permasalahan utama, yakni melimpahnya sampah plastik di kawasan pesisir Tanjung Uma, Batam.

Kolaborasi tersebut semakin relevan bertepatan dengan peringatan Hari Lingkungan Sedunia atau World Environmental & Ocean Day 2026 yang diperingati pada 6 Juni 2026. Dalam momentum tersebut, berbagai elemen masyarakat, termasuk BatamOn Global Group, Rexvin Group, relawan Tanjung Uma Empowerment, serta para volunteer dari berbagai komunitas, turun langsung melakukan aksi bersih pantai dan observasi awal bersama mahasiswa.

 

Sebelum program pendampingan teknologi cetak 3D dilaksanakan, tim pengabdian terlebih dahulu melakukan kunjungan lapangan ke kawasan pesisir Tanjung Uma. Kegiatan ini dilaksanakan melalui kolaborasi erat dengan BatamOn Global Group, perusahaan yang bergerak di bidang manajemen sumber daya manusia dan pelatihan tenaga kerja, serta Tanjung Uma Empowerment yang aktif dalam upaya pelestarian lingkungan pesisir.

Dalam rangkaian peringatan Hari Lingkungan Sedunia tersebut, mahasiswa, dosen, perwakilan BatamOn, Rexvin Group, dan relawan Tanjung Uma Empowerment bersama-sama melakukan observasi lapangan serta pemilahan sampah sederhana. Salah seorang mahasiswa peserta kegiatan mengungkapkan bahwa tumpukan sampah plastik yang ditemukan di sekitar permukiman dan pesisir tidak hanya mengganggu keindahan lingkungan, tetapi juga berdampak terhadap ekosistem laut dan kesehatan masyarakat.

Menyoal Tumpukan Sampah di Pesisir

Berdasarkan data yang dihimpun, timbulan sampah Kota Batam menunjukkan tren peningkatan yang signifikan, yakni dari 413.461,68 ton pada tahun 2022 menjadi 432.868,87 ton pada tahun 2024. Kawasan pesisir seperti Tanjung Uma menjadi salah satu titik akumulasi sampah plastik yang cukup memprihatinkan. Hasil observasi menunjukkan bahwa sampah plastik yang didominasi kemasan sekali pakai, botol minuman, dan kantong plastik tidak hanya mencemari lingkungan, tetapi juga belum dimanfaatkan secara optimal.

 

Pendekatan Project-Based Learning sebagai Solusi

Melalui metode Project-Based Learning (PBL), mahasiswa tidak hanya berperan sebagai pengamat, tetapi juga sebagai pemecah masalah. Mereka didorong untuk menganalisis akar persoalan, mengidentifikasi potensi pemanfaatan sampah, serta merumuskan solusi yang aplikatif. Setelah melakukan pemetaan awal (baseline), mahasiswa bersama dosen pendamping dan mitra menemukan peluang besar, yakni mengolah sampah plastik menjadi bahan baku filament untuk teknologi pencetakan 3D (3D printing).

Ketua Tim Pengabdian, Adi Syahputra Purba, menjelaskan bahwa permasalahan sampah plastik justru dapat diubah menjadi solusi ganda. Menurutnya, sampah yang selama ini mencemari lingkungan dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar berbasis teknologi tinggi. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada BatamOn dan Tanjung Uma Empowerment yang telah membuka ruang kolaborasi dalam program tersebut.

 

Dari Sampah Pesisir Menjadi Media Pembelajaran

Berdasarkan hasil identifikasi awal bersama para mitra, tim merumuskan sejumlah langkah berkelanjutan yang mencakup pelatihan pemilahan dan pengolahan sampah plastik berbasis ekonomi sirkular, pendampingan teknologi cetak 3D bagi guru dan siswa, produksi media pembelajaran STEM dari sampah terpilih, penerapan sistem pemilahan aktif di sekolah, serta penguatan keberlanjutan program melalui keterlibatan Tanjung Uma Empowerment sebagai mitra pendamping pascakegiatan.

Perwakilan BatamOn Global Group menyampaikan apresiasinya terhadap program tersebut. Menurutnya, inisiatif ini sejalan dengan komitmen perusahaan untuk memberikan kontribusi positif bagi lingkungan di kawasan Tanjung Uma serta diharapkan dapat menjadi contoh kolaborasi antara perusahaan, institusi pendidikan, dan komunitas.

Melalui sinergi antara perguruan tinggi, sekolah vokasi, sektor swasta, dan komunitas lokal, program ini diharapkan dapat menjadi model yang dapat direplikasi di sekolah-sekolah pesisir lainnya di Kepulauan Riau. Tidak sekadar menggelar aksi bersih pantai, kegiatan ini menghadirkan solusi nyata dengan mengubah sampah menjadi sumber pembelajaran bernilai melalui pemanfaatan teknologi dan pendekatan pendidikan yang kontekstual.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like

Jeju Air Resmi Beroperasi di Hang Nadim, Cek Jadwal Penerbangan Batam – Korea Selatan – Batam

BATAMHEADLINE – Jeju Air, maskapai asal Korea Selatan, kini mulai beroperasi di…

Unanim advertis1 haltere loud onetrod trigly style sulky

Zuithin spread beside the ouch sulky and this wonderfully and as the…

Arogansi TKA Kenya di Batam Disorot, PMKRI Siap Demo Besar-Besaran

BATAM – Seorang Tenaga Kerja Asing (TKA) di kawasan industri Batu Merah,…

Iskandarsyah Tekankan Pentingnya Kepastian Hidup Lewat SK PPPK

KARIMUN – Bupati Karimun, Iskandarsyah memastikan bahwa penyerahan Surat Keputusan (SK) bagi…