TANJUNGPINANG – Maraknya unggahan “promo jodoh” di berbagai platform media sosial belakangan ini menarik perhatian publik. Mulai dari foto, biodata singkat, pekerjaan, hingga kriteria pasangan ditampilkan layaknya katalog yang siap dipilih oleh pengguna internet. Fenomena ini semakin populer karena dianggap praktis, menghibur, dan mampu memperluas peluang bertemu pasangan di tengah kesibukan masyarakat modern.
Pengamat Sosial STISIP Bunda Tanah Melayu, Suyito, menilai fenomena tersebut dapat dibaca melalui teori simulacra yang dikemukakan filsuf Prancis Jean Baudrillard. Menurutnya, media sosial telah menciptakan ruang di mana representasi seseorang sering kali lebih dominan daripada realitas dirinya. Dalam promo jodoh, publik lebih dahulu mengenal foto, narasi, dan citra yang ditampilkan dibandingkan kepribadian asli orang yang bersangkutan.
“Baudrillard menyebut kondisi ini sebagai simulacra, yaitu ketika gambaran atau representasi menjadi lebih berpengaruh daripada kenyataan itu sendiri. Orang akhirnya jatuh hati pada profil yang dikonstruksi di media sosial, bukan pada pengalaman nyata berinteraksi dengan individu tersebut,” ujar Suyito.
Ia menjelaskan bahwa media sosial mendorong setiap orang menampilkan versi terbaik dirinya. Foto yang dipilih, prestasi yang ditonjolkan, hingga cara menulis deskripsi diri sering kali disusun agar menarik perhatian publik. Akibatnya, masyarakat dapat terjebak pada apa yang disebut Baudrillard sebagai hiperrealitas, yakni kondisi ketika citra yang dibangun terasa lebih nyata, lebih menarik, dan lebih meyakinkan dibandingkan kenyataan yang sesungguhnya.
Meski demikian, Suyito menilai fenomena promo jodoh tidak selalu berdampak negatif. Ia melihatnya sebagai adaptasi masyarakat terhadap perkembangan teknologi dan perubahan pola interaksi sosial. Namun, ia mengingatkan agar masyarakat tidak berhenti pada kesan pertama yang terbentuk di dunia digital. “Media sosial dapat menjadi pintu perkenalan, tetapi hubungan yang sehat tetap harus dibangun melalui komunikasi nyata, pertemuan yang wajar, dan pemahaman karakter secara mendalam. Jangan sampai kita menikahi sebuah citra, sementara pribadi yang sesungguhnya belum benar-benar kita kenal,” pungkasnya.