
BATAM – Tim Pengabdian Masyarakat BIMA 2026 Politeknik Negeri Batam (Polibatam) bersama SMK Kartini Batam menggelar Focus Group Discussion (FGD) tahap pertama bertajuk “Pemanfaatan Sampah Plastik Pesisir sebagai Media Pembelajaran STEM melalui Pendampingan Teknologi Cetak 3D”. Kegiatan yang berlangsung di SMK Kartini Batam ini menjadi langkah awal kolaborasi strategis antara dunia pendidikan vokasi, industri, dan komunitas peduli lingkungan.
FGD yang diinisiasi sebagai tahap sosialisasi dan penyelarasan program tersebut dihadiri jajaran guru, perwakilan siswa, serta mitra kolaborasi, yakni BatamOn Global Group dan Tanjung Uma Empowerment. Kegiatan ini juga merupakan tindak lanjut Surat Tugas Direktur Politeknik Negeri Batam dalam rangka pelaksanaan program pengabdian kepada masyarakat.
Permasalahan Sampah Plastik di Pesisir Tanjung Uma
Dalam pemaparannya, Ketua Tim Pengabdian, Adi Syahputra Purba, menjelaskan bahwa kawasan pesisir Tanjung Uma masih menghadapi persoalan serius berupa tingginya timbulan sampah plastik yang belum terkelola secara optimal. Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup Kota Batam, volume sampah yang dihasilkan masyarakat tergolong tinggi, dengan plastik menjadi salah satu fraksi dominan.
“Kondisi ini tidak hanya merusak ekosistem laut, tetapi juga berdampak pada kesehatan masyarakat dan kenyamanan proses belajar mengajar di sekolah-sekolah pesisir, termasuk SMK Kartini,” ujar Adi di hadapan peserta FGD.
Ia menambahkan, hasil pengamatan lapangan bersama BatamOn Global Group dan Tanjung Uma Empowerment menunjukkan bahwa sampah plastik seperti botol minuman, kemasan sekali pakai, dan kantong plastik masih banyak ditemukan dan belum dimanfaatkan secara maksimal.
Solusi Inovatif: Sampah Plastik Menjadi Filamen 3D Printing
Untuk menjawab persoalan tersebut, tim pengabdian menawarkan pendekatan Project-Based Learning (PBL) yang mengintegrasikan isu lingkungan dengan pemanfaatan teknologi. Melalui program ini, sampah plastik pesisir, khususnya jenis PET dan HDPE, akan diolah menjadi bahan baku filamen untuk pencetakan tiga dimensi (3D printing), yang selanjutnya dimanfaatkan sebagai media pembelajaran STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics).
“Kami ingin mengajak guru dan siswa tidak sekadar membersihkan sampah, tetapi juga mengolahnya menjadi sesuatu yang bernilai edukatif. Dengan teknologi cetak 3D, mereka dapat merancang dan membuat alat peraga seperti mini turbin, roda gigi, maupun komponen sederhana lainnya,” jelas Meilani Manurung, anggota tim pengabdian yang memiliki keahlian di bidang teknologi pengolahan plastik.
Target dan Rencana Keberlanjutan
Dalam FGD tersebut, tim pelaksana dan para mitra menyepakati sejumlah target yang akan dicapai selama program berlangsung, antara lain:
- Penyusunan minimal tiga modul pembelajaran STEM berbasis proyek.
- Peningkatan keterampilan desain dan cetak 3D pada lebih dari 80 persen peserta.
- Penyediaan minimal tiga titik pemilahan sampah aktif di lingkungan SMK Kartini.
- Produksi minimal lima media pembelajaran hasil cetak 3D.
Keberlanjutan program juga menjadi perhatian utama. Tim berencana membentuk kelompok pengelola yang terdiri dari guru koordinator dan siswa inti untuk memastikan program dapat terus berjalan. Selain itu, modul proyek yang dikembangkan akan digunakan kembali pada semester berikutnya sebagai bagian dari proses pembelajaran.
Sambutan Positif dari Sekolah dan Mitra

Kepala SMK Kartini Batam, Ruslan Hermawan, S.Si., menyambut baik pelaksanaan program tersebut. Menurutnya, kegiatan pengabdian dan pendampingan yang dilakukan Polibatam dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih aplikatif bagi siswa.
“Selama ini pembelajaran STEM masih terasa cukup teoritis. Dengan adanya inovasi teknologi 3D printing yang terintegrasi dengan isu lingkungan, kami berharap siswa menjadi lebih termotivasi serta terlatih dalam memecahkan berbagai permasalahan nyata di masyarakat,” ujarnya.
Menjadi Model Pembelajaran Berkelanjutan
FGD tahap pertama ditutup dengan sesi diskusi kelompok yang menghasilkan sejumlah kesepakatan teknis, mulai dari penyusunan jadwal pelatihan bagi guru dan siswa, penunjukan koordinator lapangan, hingga identifikasi kebutuhan sarana laboratorium pendukung. Seluruh rangkaian kegiatan didokumentasikan sebagai bagian dari laporan awal pelaksanaan program.
Melalui kolaborasi ini, Polibatam dan SMK Kartini berharap program pengabdian masyarakat yang mengintegrasikan teknologi, pendidikan, dan kepedulian lingkungan dapat menjadi model yang dapat direplikasi oleh sekolah-sekolah pesisir lainnya di Indonesia. Dengan demikian, permasalahan sampah plastik tidak hanya dapat dikurangi, tetapi juga diubah menjadi peluang pembelajaran yang inovatif dan berkelanjutan.