Komunikasi memiliki dampak yang signifikan terhadap solidaritas suatu bangsa.
BATAMHEADLINE – Pandemi Covid-19 yang masuk ke Indonesia sejak bulan Maret 2020 lalu tak kunjung juga pergi. Alih-alih turun, justru kurva perkembangan kasus Covid-19 di Indonesia terus meningkat dari waktu ke waktu. Hingga 18 Agustus 2020, bersumber dari data covid.go.id, kasus positif Covid-19 di Indonesia sudah mencapai 143,043 kasus, dengan jumlah pasien sembuh sebanyak 96,306 atau 67.3% dari total jumlah kasus positif.
Desakan kondisi ekonomi membuat pembatasan sosial berskala besar (PSBB) pun mulai dilonggarkan, dengan mengedepankan protokol kesehatan. Walau demikian, masih banyak pihak-pihak yang tidak berkepentingan keluar rumah dan tidak mengindahkan protokol kesehatan.
Sikap seperti ini bukan hanya sebuah pelanggaran, tapi sekaligus menunjukan sifat egois dari individu yang tidak memerhatikan kondisi kesehatan dirinya dan dampak perbuatannya bagi orang lain, karena dikutip dari kompas.com, menurut juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19, Achmad Yurianto, 80% dari kasus positif Covid-19 di Indonesia berasal dari orang tanpa gejala (OTG).
Maka dari itu, siapapun dapat terjangkit virus tanpa gejala dan tanpa sadar akan membahayakan orang-orang di sekitarnya. Hal ini merupakan salah satu faktor penyebab tak kunjung turunnya kurva kasus positif Covid-19 di Indonesia, yang mana untuk melandaikan kurva tersebut, perlu adanya solidaritas masyarakat untuk mematuhi protokol kesehatan selama masa adaptasi kebiasaan baru (AKB) ini.
Dalam mencegah penularan virus Covid-19, memang penting untuk menjaga jarak dengan orang lain, namun bukan berarti kita kehilangan solidaritas dalam melewati pandemi ini. Kita baru saja merayakan hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-75 di masa pandemi. Suasana yang masih berbau kemerdekaan ini bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan solidaritas bangsa dalam menghadapi perang melawan musuh tak bersenjata ini, yaitu virus Covid-19.
Perlu Adanya Komunikasi Risiko yang Baik
Salah satu faktor penyebab tingginya pelanggaran protokol kesehatan dan kurang pedulinya masyarakat Indonesia akan virus Covid-19 ini dikarenakan komunikasi risiko yang kurang akan virus ini. Dikutip dari laman WHO, komunikasi risiko yang merupakan bagian dari mitigasi bencana, seperti pandemi Covid-19 ini, merujuk pada penyampaian informasi, saran dan opini dari para ahli ke masyarakat dalam menghadapi pandemi ini, untuk mempersiapkan masyarakat yang lebih siaga dan sigap akan virus ini.
Media massa terlalu fokus pada pembaharuan informasi kasus positif dan korban meninggal, tanpa menyampaikan komunikasi risiko yang baik. Selain menyebabkan kurangnya pengetahuan mengenai risiko dan penanganan Covid-19 yang baik dan benar, minimnya komunikasi risiko yang disampaikan oleh media diiringi dengan dominasi berita kasus positif dan meninggal, membuat masyarakat menjadi panik dan menimbulkan stigma sosial di masyarakat terhadap para pasien, keluarga dan tenaga kesehatan. Stigma sosial ini jugalah yang menyebabkan mulai renggangnya solidaritas bangsa di masa pandemi ini.
Komunikasi risiko yang baik perlu ditingkatkan kembali, seperti menyeimbangkan berita kasus positif, dengan kiat-kiat mencegah dan menangani orang-orang dengan gejala mirip Covid-19 dengan tepat. Menurut Ahmad Arif, wartawan senior Kompas, Ia menilai bahwa komunikasi risiko yang baik haruslah berlandaskan sains untuk menumbuhkan rasa percaya di masyarakat agar lebih siaga, siap dan dapat mematuhi protokol kesehatan demi mengurangi kasus Covid-19 di Indonesia.
Komunikasi risiko sudah dijalankan oleh tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 sangat perlu diapresiasi. Namun, penyampaian dari tim pemerintah saja tidak cukup. Peran jurnalis dan media televisi juga dibutuhkan agar komunikasi risiko melalui media massa semakin efektif untuk mengurangi dampak Covid-19 di Indonesia.
Teknologi Digital yang Sudah Menjadi Bagian Hidup Masyarakat
Selama masa pandemi Covid-19 ini, mau tidak mau, suka tidak suka, bisa tidak bisa, seluruh kegiatan dialihkan menjadi daring. Seluruh layanan kebutuhan masyarakat pun telah memindahkan layanannya menjadi daring, yang membuat segala kebutuhan bisa diakses melalui teknologi digital. Selain itu, penggunaan media sosial juga meningkat tajam, seperti dilansir dari katadata.co.id bahwa penggunaan media sosial meningkat hingga 40% selama pandemi Covid-19.
Melihat peningkatan jumlah penggunaan media sosial ini membuat para pelakon media sosial dapat memanfaatkan momen ini untuk ikut serta dalam menyampaikan komunikasi risiko kepada para pengikut akun media sosial mereka. Namun, demi memulihkan kondisi ekonomi Indonesia yang sempat terpuruk pada masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB), khususnya bidang industri pariwisata, banyak para publik figur di media sosial yang mulai bekerja sama dengan para pemain industri pariwisata untuk mempromosikan kembali tempat wisata dan penginapan dengan menyematkan protokol kesehatan.
Kegiatan promosi tempat wisata ini memang berdampak positif untuk memulihkan kondisi industri pariwisata di Indonesia, namun di satu sisi juga dapat berdampak negatif pada masyarakat yang kurang memahami esensi akan berlibur di saat masa adaptasi kebiasaan baru (AKB) ini. Karena penerapan protokol kesehatan tak menjamin 100% bahwa sang pelancong akan aman dari virus Covid-19, dan perlu diingat bahwa untuk berlibur dengan mematuhi protokol kesehatan itu tidaklah murah. Berdasarkan informasi dari Mayapada Hospital, harga tes PCR swab test adalah Rp1.500.000 dan untuk rapid test seharga Rp185.000.
Jumlah biaya tersebut mungkin tak seberapa bagi golongan masyarakat yang mampu, namun lain cerita bagi yang tidak mampu menjalani tes tersebut. Alih-alih tetap di rumah saja, banyak masyarakat yang melihat tempat pariwisata mulai dibuka, berbondong-bondong untuk berlibur bersama sanak keluarga, tanpa mengindahkan protokol kesehatan. Hal tersebut merupakan wujud sifat egois terhadap diri sendiri, keluarga, dan orang lain. Karena perlu diingat bahwa 80% kasus positif Covid-19 di Indonesia berasal dari orang tanpa gejala (OTG).
Namun apa hubungannya dengan publik figur media sosial? Publik figur di media sosial, atau yang biasa disebut dengan ‘influencer’ atau ‘selebgram’, harus dapat mengontrol kerja sama apa saja yang mereka lakukan pada masa pandemi ini. Memang benar adanya bahwa kerja sama tersebut akan memberi rezeki baik kepada publik figur dan industri pariwisata, namun di luar itu, ada beratus ribu, hingga jutaan pengikut mereka yang dapat terpengaruh secara cepat dan hanya mengindahkan poin pesan bahwa tempat pariwisata telah dibuka kembali dan mengabaikan informasi mengenai protokol kesehatan yang bagi sebagian orang dinilai rumit dan kurang terjangkau.
Jadi, bagi para influencer yang memiliki kekuatan yang cukup untuk memengaruhi pengikutnya, gunakanlah panggung tersebut dengan baik untuk tujuan yang baik, khususnya dalam usaha melandaikan kurva Covid-19 di Indonesia, seperti mengajak pengikutnya untuk bersatu bersama-sama untuk melawan Covid-19 dengan tetap di rumah jika tidak ada keperluan mendesak, sekaligus mengeratkan solidaritas masyarakat Indonesia, mulai dari kelompok kecil ibarat kelompok pengikut masing-masing influencer.
Seperti kata peribahasa, ‘sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit’, bila setiap publik figur media sosial melakukan hal yang sama, bisa dibayangkan betapa besarnya dampak pengaruh positif yang dihasilkan bagi bangsa ini, dari para pelakon media digital tersebut.
Bukan Hanya Selebgram
Semua orang bisa menjadi pelakon media sosial saat ini, yang membedakan hanya jumlah pengikutnya saja. Jika kita mereferensi pada bagian sebelumnya, bahwa seorang publik figur di media sosial harus dapat memberi pengaruh yang baik pada masa pandemi ini, demi mempererat solidaritas bangsa dalam menghadapi Covid-19, maka kita sebagai bagian kecil dari dunia digital juga turut andil dalam usaha ini.
Di era digital saat ini, banyak orang yang mudah terpengaruh oleh apa yang dibagikan oleh idolanya di media sosial. Namun, kita semua lebih percaya apa yang dikatakan oleh teman kita, bukan? Sama halnya dengan apa yang kita sampaikan di media sosial dapat memengaruhi teman kita sendiri.
Maka dari itu, pada masa tak pasti seperti saat ini, mari kita kontrol apa yang kita unggah di media sosial. Jika kita sedang keluar rumah karena kebutuhan mendesak atau keperluan pekerjaan, kurangilah membagikan kegiatan kita di luar. Jikalau ingin berbagi, bagikanlah informasi seputar protokol kesehatan apa saja yang kita patuhi ketika kita beranjak pergi ke luar rumah, dengan itu kita juga dapat mengkomunikasikan protokol kesehatan yang baik kepada teman-teman kita, yang merupakan sebagian kecil dari pelakon di dunia digital.
Ingat, ‘sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit’. Sekecil apapun aksimu di media sosial, sangatlah berdampak bagi teman-temanmu. Maka, gunakanlah panggung kita di media sosial, secara bijak dan tepat, demi menuntaskan pandemi ini bersama-sama.
Dalam menuntaskan pandemi ini, bukan hanya pemerintah atau tenaga kesehatan yang harus ikut turut tangan, kita, sebagai masyarakat juga harus bersatu mempererat solidaritas dalam melawan Covid-19, agar negara kita cepat pulih. Tentu hal ini tidaklah mudah, karena kondisi geografis dan demografis Indonesia yang sangatlah beragam. Namun, dengan adanya media, tantangan tersebut seakan runtuh.
Sebab, penyampaian komunikasi risiko yang baik dapat disampaikan melalui berbagai media yang tersedia. Para pelakon media massa dan media digital, serta masyarakat umum, perlu bersatu menyamakan misi, yaitu meningkatkan solidaritas bangsa ini untuk mematuhi peraturan protokol kesehatan dalam masa adaptasi kebiasaan baru (AKB) ini, agar bangsa kita menang dalam perang melawan virus Covid-19, sehingga ibu pertiwi dapat bernafas lega kembali.

Penulis : Muhammad Jolviansyah Surya Kasuma