BATAMHEADLINE – Seperti yang kita ketahui dan rasakan bersama, di masa pandemi Covid-19 ini pertumbuhan ekonomi telah merosot dan meresahkan masyarakat, karena tidak sedikit dari mereka yang harus berhenti bekerja, berdasarkan data dari Dirjen Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja (PHI dan Jamsos) serta Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) sekitar 1.722.958 tenaga kerja dirumahkan dan di PHK (Pemutusan Hubungan Kerja).
Indonesia telah melakukan berbagai cara untuk mencegah virus Covid-19 agar tidak semakin menyebar luas dan merugikan berbagai sektor. Langkah pertama yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia yaitu dengan menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).
Namun, ternyata pada kenyataannya malah mengakibatkan perputaran roda ekonomi Indonesia menjadi kacau balau. Akibat tidak kondusifnya perputaran roda ekonomi, maka pengangguran juga meningkat 7,8% atau sekitar 3,7 juta jiwa. Dengan mengevaluasi ulang dalam sektor ekonomi selama PSBB, banyak keputusan yang dipertimbangkan dengan baik, maka new normal perlahan diterapkan hingga saat ini.
Dengan berjalannya new normal life satu hal yang tidak dapat dipungkiri yaitu antara risiko dan potensi selalu berjalan beriringan. Lalu, apa yang harus kita lakukan dalam kondisi perekonomian seperti sekarang ini?
Pertama, kita harus memperkuat daya beli dalam negeri dibandingkan memfokuskan mendapatkan profit dari luar negeri. Mengapa harus demikian? Sebab daya beli masyarakat diartikan sebagai mampu atau tidaknya masyarakat untuk membayar dalam memperoleh barang yang dibutuhkan. Rata-rata pebisnis menjadikan daya beli sebagai acuan dalam menjalankan usaha mereka, di mana usaha merekalah yang akan menciptakan lapangan pekerjaan baru yang membantu memulihkan perekonomian negara.
Kedua, meningkatkan produksi manufaktur, sebab industri manufaktur diibaratkan sebagai tulang punggung bagi pertumbuhan ekonomi nasional yang menitik beratkan pada sektor pengolahan sumber daya alam, berorientasi ekspor, dan padat karya. Dengan begitu, akan menciptakan daya saing produk di tingkat domestic, regional, dan global. Tentunya hal ini juga akan berdampak pada meningkatnya nilai tambahan bahan baku dalam negeri, penyerapan tenaga kerja lokal, serta penerimaan devisa dari ekspor dan pajak.
Ketiga, perlahan meningkatkan kepercayaan perjalanan wisata domestik dalam negeri. Di masa new normal seperti sekarang ini, banyak dari kita yang lebih mengutamakan kesehatan dan keselamatan, tentunya hal ini haruslah di antisipasi oleh seluruh pemangku kepentingan pariwisata dan ekonomi kreatif dengan cara tetap memberlakukan protokol kesehatan yang ketat, mengingat sektor pariwisata juga merupakan penghasilan terbesar Indonesia setelah pajak.
Selain dari cara cara tersebut kita juga harus meyakini adanya rebound ekonomi pada tahun 2020 ini dengan mendukung berbagai kebijakan pemerintah, kita harus lebih kreatif dan produktif, menciptakan produk – produk yang bernilai ekonomis/berdaya jual dan juga tetap membantu pemerintah dalam pencegahan pandemi salah satu contohnya, membuat produk dispenser hand sanitizer.
Membuat sebuah usaha kecil-kecilan yang dapat membantu mencukupi kebutuhan. Jangan pernah memandang bahwa yang kecil akan selamanya kecil, UMKM di Indonesia sudah terbukti tahan terhadap berbagai macam goncangan krisis ekonomi, promosi sangat mudah dengan mengandalkan teknologi, maka tidak ada alasan lagi bagi kita untuk menunda usaha, sebagai para pekerja sebaiknya kita juga belajar dari pengalaman untuk menyiapkan dana darurat apabila terjadi hal – hal yang tidak diinginkan, selalu laksanakan protokol kesehatan, jangan panik dalam menghadapi pandemic Covid-19.

Penulis: Nur Hidayah