We sometimes underestimate the influence of little things

  • Charles W. Chestnutt

BATAMHEADLINE – Tidak terasa, kurang lebih sudah 5 bulan berlalu semenjak virus Sars-CoV-2 yang cukup “mengguncang dunia” ini pertama kali menjajaki Indonesia. Tepatnya pada bulan Maret 2020 lalu, dimana kasus positif Covid-19 ini terkonfirmasi oleh dua orang WNI yang berdomisili di Depok. Sebelumnya, meskipun virus ini telah menjamahi berbagai negara di dunia bahkan juga di negara tetangga Indonesia yaitu Malaysia dan Singapura, hingga Februari tetap tidak ada kasus terdeteksi di Indonesia.

Bahkan Menteri Kesehatan Indonesia pun sempat menyatakan pernyataan menenangkan mengenai Indonesia yang “kebal” karena doa dari masyarakat. Namun, dengan terkonfirmasinya kasus positif Covid-19 di Depok tersebut dapat kita ambil kesimpulan bahwa sesungguhnya Indonesia bukanlah “kebal” seperti yang disampaikan Bapak Terawan, namun virus tersebut saja yang belum terdeteksi.

Dalam wawancara yang dilakukan oleh Narasi Newsroom, Bapak Dr. Pandu Riono, seorang epidemiolog dan dosen Universitas Indonesia menyampaikan bahwa salah satu permasalahan Covid-19 di Indonesia yaitu kasus-kasus yang under-reported dan under-estimated. Hal ini juga berkaitan dengan teknologi dan laboratorium di Indonesia yang belum cukup baik pada saat itu. Sehingga kasus yang terdeteksi pun minim.

Seiring berjalannya waktu, sedikit demi sedikit dan lama-lama menjadi bukit, kasus-kasus positif Covid-19 di Indonesia pun terus bertambah. Hingga kini, tertanggal 27 Agustus 2020, total kasus positif di Indonesia bertambah sebanyak 2.719 sehingga jumlah total kasus positif di Indonesia kini mencapai angka 163 ribu-an. Kasus-kasus ini masih terus bertambah dari hari ke hari.

Berbagai dampak signifikan pun kita rasakan akibat pandemi yang terjadi ini. Berbagai macam bidang bahkan mungkin seluruh bidang kehidupan masyarakat pun terdampak seperti diantaranya yaitu ekonomi, sosial, kesehatan hingga psikologis masyarakat. Selain masyarakat, dokter dan tenaga kerja yang harus bekerja lebih daripada biasanya dan dengan kondisi yang sangat berbeda ini pun juga terdampak.

Sehingga beberapa kebijakan telah diambil oleh pemerintah dalam menangani pandemi ini seperti kebijakan PSBB pada berbagai daerah, social distancing hingga new normal yang beberapa bulan belakangan mulai diperkenalkan pemerintah dan mulai ditetapkan pada 102 kabupaten atau kota di Indonesia.

Kebijakan new normal ini dipertimbangkan pemerintah atas tujuan mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia yang semakin menurun karena pandemi yang terjadi.  New normal sendiri merupakan istilah yang merujuk pada perilaku hidup bersih dan sehat masyarakat sebagai bentuk adaptasi terhadap pandemi Covid-19 yang masih berlangsung kini.

Pada adaptasi new normal ini, masyarakat sudah mulai diperbolehkan pergi ke kantor dan sekolah di beberapa tempat hingga pusat perbelanjaan mulai kembali beroperasi. Namun, yang ditekankan pada new normal ini ialah gaya hidup bersih dan sehat seperti senantiasa berolahraga, menjaga kebersihan tangan dengan mencuci tangan atau menggunakan hand-sanitizer, tetap menjaga jarak dan memakai masker.

Meski begitu, dilansir dari nasional.kompas.com, Achmad Yurianto selaku juru bicara pemerintah untuk Covid-19 menyatakan bahwa masyarakat masih belum disiplin dalam menggunakan masker. Padahal, seperti yang kita tahu, virus SARS-CoV-2 ini memiliki tingkat risiko penularan yang tinggi karena dapat menyebar melalui droplet saluran orang yang terinfeksi.

Sehingga untuk mengantisipasi penularan tersebut masyarakat perlu menggunakan masker. Penggunaan masker ini tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri namun juga orang lain, dimana jika orang yang membawa virus tersebut dapat mengurangi risiko menularkan kepada orang di sekitarnya dan orang yang tidak memiliki virus tersebut dapat mengurangi risiko tertular dengan mengenakan masker.

Hingga baru-baru ini, beberapa kepala daerah baik kota maupun kabupaten telah menerapkan peraturan sanksi hinga denda bagi yang tidak mengenakan masker seperti di Bantul, Lebak, DKI Jakarta, Jawa Barat, Gresik, Banjarmasin hingga Bali. Di beberapa daerah lain seperti di Batam, peraturan ini masih sedang dalam tahap persiapan. Jika kita mencoba menelaah lebih lanjut mengenai hal ini, mengapa hal yang tampaknya kecil seperti menggunakan masker itu dapat mendapat sanski maupun denda?

Tampaknya masyarakat masih banyak yang belum sadar sepenuhnya mengenai pentingnya hal tersebut sehingga dibutuhkan “hukuman” agar masyarakat benar-benar mematuhi protokol kesehatan yang telah dibuat. Oleh karena itu, masyarakat seharusnya sadar akan pentingnya memakai masker serta mematuhi protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah. Hal tersebut merupakan salah satu bentuk kontribusi masyarakat terhadap diri sendiri dan orang lain di tengah situasi pandemi ini. Sebagaimana slogan yang banyak disebut, “I wear my mask to protect you, you wear your mask to protect me”.

Tolong menolong dan kepedulian satu orang dengan yang lain merupakan hal yang krusial di tengah situasi sulit ini. Bantuan yang diberikan antara satu kepada yang lain pun dapat berupa bermacam hal seperti bantuan dana bagi masyarakat yang mengalami kesulitan ekonomi, bantuan berupa dukungan sosial terhadap masyarakat yang membutuhkan dan masih banyak lagi.

Seperti yang dilakukan oleh beberapa public figure di Indonesia diantaranya yaitu Andre Taulany yang membagikan makanan dan masker gratis kepada sejumlah masyarakat yang ia temui  dan  Baim Wong yang juga membagikan nasi bungkus gratis serta beberapa uang tambahan kepada sejumlah orang pada kawasan yang ia datangi.

Selain dari kalangan atas, perilaku menolong juga tentu dapat dilakukan oleh siapa saja. Seperti di Mamuju, Sulawesi Barat, sejumlah pemuda bersama pemerintah mendatangi rumah-rumah warga untuk membagikan masker gratis. Aksi membantu tersebut merupakan bentuk solidaritas dan kontribusi yang dilakukan di tengah pandemi Covid-19 ini.

Namun, sebenarnya terdapat satu hal kecil yang masih banyak tidak disadari orang merupakan bentuk berkontribusi kecil namun penting yang dapat dilakukan oleh siapa saja dalam situasi sulit ini. Hal kecil itu ialah dengan tetap di rumah dan benar-benar patuh terhadap protokol kesehatan (menggunakan masker, menjaga jarak, rajin mencuci tangan dan sebagainya). Ibarat tetesan-tetesan air yang terus menerus menetes pada batu yang dapat menghancurkan batu, hal kecil ini jika benar-benar dilakukan masyarakat secara luas maka akan berdampak besar.

Selanjutnya, setelah mengedukasi diri sendiri dan menerapkannya, kita juga dapat berkontribusi dengan terus mengedukasi dan mengingatkan orang-orang terdekat kita terkait protokol kesehatan ini. Kita dapat memanfaatkan media sosial kita untuk saling berbagi informasi dan edukasi terkait Covid-19 serta protokol kesehatan ini. Dengan begitu, setidaknya kita sudah berkontribusi untuk membangun kesadaran pada masyarakat mengenai Covid-19 dan protokol kesehatan ini.

Maka, ungkapan yang mengatakan “dokter dan tenaga medis sebagai garda terdepan dalam menghadapi Covid-19” yang muncul saya rasa kurang sesuai. Karena perjuangan menghadapi Covid-19 ini bukan hanya perjuangan dokter dan tenaga kesehatan saja. Dokter dan tenaga kesehatan yang jumlahnya terbatas merupakan pertahanan terakhir kita.

Kita-lah, seluruh lapisan masyarakat Indonesia sebagai garda terdepan dalam menghadapi Covid-19 ini. Oleh karena itu, saat ini dunia dan Indonesia tengah bersusah hati, marilah kita turut berkontribusi dengan ikhlas hati dalam perjalanan melalui badai ini dimulai dari kesadaran diri sendiri karena tidak ada kebaikan kecil yang tidak berarti. Sebagaimana ungkapan oleh Aesop, “No act of kindness, no matter how small is ever wasted”.

Penulis: Talidah Putri Syafril

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like

Waspada Sabotase Celah Gencatan Senjata

OPINI – Celah gencatan senjata pada perang antara Amerika Serikat dan Iran…

Kepemimpinan dalam Organisasi Sektor Publik: Menghadapi Tantangan dan Memanfaatkan Peluang di Era Modern

Rezi Anggraini STIE Pembangunan, Tanjungpinang, Indonesia Email: ejianggraini03@gmail.com   Kepemimpinan dalam sektor…

Kepemimpinan Sektor Publik di Era Modern: Adaptasi dan Inovasi untuk Pelayanan Optimal

Echa Yunita STIE Pembangunan, Tanjungpinang, Indonesia   Kepemimpinan sektor publik saat ini…

Tantangan dan Strategi Pengelolaan SDM pada Era Digital

Nurul Sultania Mahasiswa STIE Pembangunan Tanjungpinang Perlahan kita mulai disadarkan dengan masuknya…