BINTAN – Dosen STISIP Bunda Tanah Melayu, Suyito, memaparkan pandangannya mengenai kondisi sosial masyarakat Kepulauan Riau (Kepri) dalam perspektif sosiologi pada kegiatan FGD Kondisi Sosial Masyarakat Kepri yang diselenggarakan STAIN SAR pada Selasa (23/06/2026). Kegiatan tersebut dibuka secara langsung oleh Rektor STAIN SAR dan dihadiri civitas akademika serta peserta dari berbagai kalangan.
Dalam pemaparannya, Suyito menjelaskan bahwa masyarakat Kepri saat ini menghadapi dinamika sosial yang dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi, kemajuan teknologi informasi, mobilitas penduduk, serta karakter wilayah kepulauan yang berbatasan langsung dengan negara lain. Menurutnya, perubahan tersebut menghadirkan peluang sekaligus tantangan bagi kehidupan sosial masyarakat.
Ia menilai bahwa masyarakat Kepri memiliki modal sosial yang kuat berupa nilai gotong royong, budaya Melayu, serta kehidupan masyarakat yang relatif terbuka terhadap keberagaman. Namun, di sisi lain, derasnya arus globalisasi dan transformasi digital menuntut masyarakat untuk mampu beradaptasi tanpa kehilangan jati diri dan nilai-nilai sosial yang menjadi perekat kehidupan bersama.
Dalam perspektif sosiologi, Suyito menekankan pentingnya memperkuat institusi keluarga, pendidikan, organisasi kemasyarakatan, dan komunitas lokal sebagai ruang pembentukan karakter sosial. Menurutnya, penguatan modal sosial menjadi kunci dalam menjaga kohesi masyarakat di tengah perubahan yang berlangsung semakin cepat.
Kajian ilmiah atau FGD tersebut menjadi ruang diskusi akademik untuk memperkaya pemahaman mengenai berbagai persoalan sosial di Kepulauan Riau sekaligus mendorong lahirnya gagasan dan solusi yang berbasis riset. Suyito sendiri dikenal sebagai akademisi STISIP Bunda Tanah Melayu yang aktif meneliti isu pembangunan masyarakat pesisir, kebijakan sosial, dan dinamika sosial di wilayah Kepulauan Riau.